Akhmadfarhan's Blog

Berbagi Tips Manajemen, Kepemimpinan, Motivasi

Hikmah dibalik hijrah

pada 6 Januari 2009

Episode pergantian tahun yang baru saja berlalu terasa sangat istimewa dibandingkan dengan peristiwa yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Keistimewaannya adalah momen pergantian tahun terjadi hampir bersamaan antara tahun baru Islam dengan tahun baru masehi. Momen seperti ini sangat langka karena hanya akan terjadi dalam jangka waktu 33 tahun sekali. Belum tentu kita akan mengalami kesempatan seperti ini lagi.

            Perbedaan antara kalender Islam dan masehi bukan hanya terletak pada cara perhitungannya saja. Popularitas dan penggunaannya pun berbeda secara signifikan. Kalender Islam kurang populer dan jarang dijadikan sebagai acuan. Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya muslim sekalipun. Sedangkan kalender masehi sebaliknya, menjadi acuan dunia.

            Selain itu, pergantian tahun baru diperingati secara meriah oleh sebagian besar umat manusia. Peringatan itu dilakukan dengan berbagai cara dari yang berbentuk pesta pora, hura-hura sampai mengheningkan cipta. Tahun baru Islam tidak pernah diperingati secara khusus karena memang tidak ada tuntutan dan tuntunan yang pernah dicontohkan.

            Momen pergantian tahun hendaknya digunakan oleh kaum muslimin sebagai sarana untuk berkontemplasi, mengukur diri dan menghitung hari. Kita harus melakukan instropeksi diri atau muhasabah seperti yang pernah diucapkan oleh Umar bin Khattab yang mengatakan ”Hasiibu anfusakum qobla an tuhasabu”. Artinya hisablah dirimu sebelum engkau dihisab. Hitunglah amal perbuatan kita sebelum Allah SWT yang menghitungnya di hari akhir nanti.

            Sebenarnya ada hikmah yang sangat mendalam terkandung dalam sejarah penggunaan kalender Islam. Sejarah itu berawal dari usulan Umar bin Khattab yang memiliki ide agar peristiwa hijrah dijadikan momentum awal penggunaan kalender Islam. Nama kalender hijriyah pun berasal dari kata hijrah.

            Kata hijrah diartikan sebagai pindah. Pada saat itu Rasulullah SAW dan para sahabat berpindah dari kota Mekah ke Madinah. Ada beberapa hikmah dibalik peristiwa hijrah tersebut, diantaranya yaitu:

  1. Menguji iman kaum muslimin karena harus meninggalkan keluarga, harta dan kampung halaman yang mereka cintai.
  2. Membuka jalan perkembangan dakwah Islam.
  3. Memberikan nafas baru dalam perkembangan hubungan antar manusia karena orang Arab sebelumnya dikenal sangat membanggakan kelompok atau suku (ashobiyah). Hijrah mempersatukan hubungan antara kaum Muhajirin dari Mekah dengan kaum Anshor dari Madinah.

 

Seseorang yang bekerja atau belajar di luar negeri atau di luar daerah bisa dikategorikan sebagai orang yang berhijrah. Hal ini dikarenakan kata hijrah itu sendiri memiliki arti ”pindah atau meninggalkan” sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Makna hijrah bisa dikategorikan menjadi dua yaitu:

  1. Hijrah makaniyah; perpindahan secara lahiriah, dari suatu tempat ke tempat lain.
  2. Hijrah maknawiyah; perpindahan secara pemahaman dan sikap, meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT.

Kita ini sudah tergolong orang berhijrah secara makaniyah alias pindah tempat. Namun, kita belum tentu menjadi orang yang berhijrah secara maknawiyah. Tujuan pindah atau hijrah di masa Rasulullah SAW adalah untuk merubah keadaan. Sampai saat ini hal ini masih dan akan terus berlaku. Seseorang yang meninggalkan kampung halamannya untuk belajar atau bekerja pasti karena ingin merubah keadaan dirinya, keluarga atau bahkan ummat dan bangsanya.

Mereka yang berhijrah/pindah tempat atau bisa juga disebut merantau cenderung memiliki kelebihan dibandingan dengan penduduk lokal. Ada beberapa karakteristik orang yang berhijrah yang membuat mereka memiliki keunggulan yaitu:

  1. Naluri untuk bertahan hidupnya lebih tinggi karena mereka jauh dari keluarga dan kampung halamannya.
  2. Keinginan merubah keadaan menjadi salah satu motivasi yang mendorong mereka untuk selalu berbuat yang terbaik.
  3. Daya adaptasi terhadap lingkungan tinggi.
  4. Memiliki toleransi terhadap perbedaan pandangan.
  5. Menjaga hubungan sosial dengan semua kalangan.
  6. Tidak ingin kembali ke kampung halaman sebelum berhasil.

Karakteristik orang yang berhijrah secara makaniyah di atas juga dimiliki oleh orang yang berhijrah secara maknawiyah. Kita bisa ambil contoh seseorang yang masa lalunya penuh dengan noda dan dosa kemudian dia berhijrah dan menjadi seorang muslim yang taat. Biasanya dia akan lebih istiqomah dan konsisten menjaga dirinya dari kemaksiatan karena dia pernah merasakan kepahitan ketika terjerumus ke sana. Bila dibandingkan dengan orang yang jalan hidupnya relatif lurus dan tidak bergejolak, mereka cenderung berada di zona nyaman.

Penduduk lokal dalam konteks hijrah makaniyah dan orang yang jalan hidupnya biasa-biasanya saja dalam konteks hijrah makaniyah berada dalam zona nyaman. Mereka enggan untuk berubah posisi karena merasa sudah ”PW” alias posisi wuenak. Kecenderungannya mereka tidak mau menerima tantangan, tidak berani menghadapi perbedaan. Mereka adalah pendukung setia ”status quo” untuk dirinya sendiri. Jenis manusia seperti ini tidak akan pernah maju karena lebih senang dengan keadaan masa lalu sementara zaman telah berubah.

Jika kita ingin maju dan menjadi orang yang sukses dalam kehidupan, jadilah orang yang selalu berhijrah. Orang yang selalu merindukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Meminjam istilah Robert T. Kiyosaki, kita harus pindah quadrant dari sekedar muslim menjadi mukmin. Dari mustahik menjadi muzzaki, dari pembaca menjadi penulis, dan seterusnya.

Ayo, kita berhijrah….

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: